Tanda Orangtua Terlalu Keras pada Anak

Kenali beberapa Tanda Orangtua Terlalu Keras pada Anak karena akan berdampak buruk pada kesehatan mental dan psikologis anak jika terlalu mendapatkan tekanan atau beban yang sangat keras dari orangtua mereka.

Orangtua sering mengahadapi dilema saat mengasuk anak. Seperti antara menerapkan peraturan dengan sanksi yang tegas atau memberi ruang untuk anak dalam berargumentasi. Apakan kalian mengalaminya juga ? Tentunya, harus memeriksa kembali pola asuh yang sudah sesua untuk anak.

Tanda Orangtua Terlalu Keras pada Anak

Pasti akan ada momen pada saat anak tidak mengerjakan sesuatu seperti yang diinginkan orang tua. Seperti tidak mau menghabiskan makanan, tidak mau berangkat sekolah, atau tidak mau mengerjakan PR. Jika ini sering terjadi, apakah harus bersikap tegas dan menghukum anak kita ?

Memeriksa Pola Asuh

Mendisiplinkan anak memang sangat penting, tetapi tetap perlu ada aturan dan batasannya. Jika anda sering bertanya apakah pola asuh yang diterapkan pada anak terlalu keras, hal-hal dibawah ini bisa membantu untuk menjawabnya.

  • Hanya Memuji Hasil Terbaik Anak

Pastinya kalian baru akan memuji si kecil ketika pencapaian yang sempurna, jika anda baru memberi pujian saat anak mendapatkan nilai ujian 100 atau saat dia mencetak suatu prestasi. Hal ini takutnya si kecil beranggapan bahwa bunda hanya menyayanginya ketika dia berhasil saja. Mulai sekarang, cobalah untuk tetap memuji anak meskipun dia gagal atau tidak mencapai hasil yang diharapkan, selama dia sudah berusaha dengan baik.

  • Hanya Memberi Perintah

Orang tua yang terlalu keras pada anak cenderung akan terus memberikan perintah yang harus dilakukan saat itu juga. Mulai dari sekarang, coba beri kebebasan pada anak, anda dapat memberikan kalimat tanya atau pilihan yang sama-sama baik. Seperti mau membereskan kamar atau meletakan pakaian kotor dulu, mulailah membiasakan pertanyaan atau kalimat tanya agar anak bisa bebas dalam memilih sesuatau, asalkan sesuatu itu tidak berbahaya untuk dia.

  • Tidak Memberi Toleransi

Orangtua yang terlalu keras pada anak cenderung tidak melihat penyebab atau alasan saat anak tidak melakukan hal yang diinginkan orang tua. Seperti, anda ingin anak menjaga kebersihan pakaiannya, tapi sekali waktu dia terjaduh dan kototr. Jangan marah dulu, cukup minta anak anda untuk lebih berhati-hati lagi.

  • Terlalu Sering Mengomel dan Menghukum

Anda sering mengomel atau menghukum anak saat dia lalai atau lambat dalam mengerjakan sesuatu, Ternyata, terlalu sering mengomel justru dapat membuat anak tidak belajar untuk mandiri. Dia juga tidak bisa belajar untuk bertanggung jawab atas tindakannya. Biasakan untuk hanya menegur anak untuk hal yang benar-benar penting.

Selain itu, biarkan anak menghadapi konsekuensi alami dari kelalian atau kemalasannya,. Seperti, jika dia tidak mau belajar, berarti tidak akan memahami materi pelajaran di sekolah.

Kalian perlu lebih berhati-hati karena selain kurang efektif, pola asuh yang terlalu ekras atau otoriter seperti contoh diatas justru bsia berdampak buruk pada anak.

Efek Negatif Terlalu Keras Pada Anak

Tidak disiplin bukan selalu diberti hukuman. Disiplin merupakan tentang menanamkan nilai-nilai baik pada anak. Sedangkan hukuman, lebih bersifat kontrol dan kepatuhan dengan paksaan.

Disiplin yang terlalu ketat justru dapat menyudutkan anak untuk terpaksa berbohong demi menghindari hukuman. Selain itu, ekspektasi tinggi dari orangtua kadang membuat anak menjadi takut mencoba hal-hal baru.

Anak pun bisa menjadi terlalu khawatir, tidak percaya diri, berprilaku agresif atau terlalu malu dekat orang lain, susah bersosialisasi, dan sulit mengendalikan diri.

Pola Asuh Otoritatif Lebih Baik

Daripada bertahan dengan pola asuh otorites yang cenderung membuat anak sres, kenali pola asuh otoritatif atau demokratis. Jika anak dari orang tua bertipe otorites cenderung lebih mudah depresi dan rendah diri, anak yang dibesarkan dalam pola asuh otoritatif cenderung dapat mengendalikan diri dan percaya diri.

Ciri-ciri Pola Asuh Otoritatif

  1. Mendorong anak untuk mengekspresikan pendapat dan mendiskusikan pilihan
  2. Menyesuaikan ekspektasi sesuai kondisi dan situasi anak
  3. Menerima dan mendengarkan argumentasi anak, meski tidak selalu sepakat
  4. Memberi hukuman yang disertai penjelasan dan persuasi
  5. Percaya bahwa meskipun anak perlu mengikuti perintah, tetapi mereka juga harus dihormati dan punya kebutuhan sendiri
  6. Percaya bahwa orangtua punya keuasa dan kehendak terhadap anak, tetapi juga harus bijaksana

Mulai dari sekarang, kurangilah pola keras dalam mendidik anak dan arahkan anak dengan cara yang mereka sukai agar terhindar dari stres, depresi, dan hal yang tidak di inginkan kedepannya.

Semoga bermanfaat

Ditulis Oleh : Toko Herbal Ricalinu

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *